MEDIAHISTORI.CO.ID,TUBABA-Pemkab Tulang Bawang Barat (Tubaba) melalui Dinas Pertanian, bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung untuk menggalakkan pola tanam Double Row pada perkebunan Singkong. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk mendongkrak hasil panen dan pendapatan petani singkong di wilayah setempat.
“Pola tanam double row adalah untuk pemaksimalan lahan dan hasil petani. Alhamdulillah, sistem tanam tersebut sudah kita mulai, dan akan terus kita galakkan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan petani singkong di daerah ini,”ungkap Ir. Syamsul Komar, MM, Kepala Dinas Pertanian Tubaba kepada awak media di Komplek Rumah Baduy Uluan Nughik, saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama Universitas Lampung secara Virtual, Senin (6/9/2021) pagi.
Dia menjelaskan, sistem tanam double row adalah dengan membuat baris ganda dengan jarak antar barisan 160 cm dan 80 cm, sedangkan jarak di dalam barisan sama yakni 80 cm. Sehingga jarak tanam ubi kayu atau singkong baris pertama (160 cm x 80 cm) dan baris kedua (80 cm x 80 cm). Penjarangan barisan ini, lanjutnya, ditujukan agar tanaman lebih banyak mendapatkan sinar matahari untuk proses fotosintesis, sehingga pembentukan zat pati ubi kayu di umbi lebih banyak dan ukuran umbi besar-besar.
“Selain itu, di antara barisan berukuran 160 cm itu dapat ditanami juga tanaman lain seperti jagung dan kacang-kacangan untuk meningkatkan pendapatan petani. Keuntungan lain dari sistem tanam ubi kayu double row adalah jumlah bibit yang digunakan lebih sedikit, tetapi hasil bobot dan hasil panen lebih banyak,”terangnya.
Selain dengan menggalakkan sistem tanam double row, pihaknya juga melakukan beberapa upaya dalam meningkatkan kesejahteraan petani, yakni dengan memfasilitasi program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai pinjaman modal bagi petani. Dengan begitu, diharapkan petani tidak terkendala modal dalam melakukan usaha budidaya pertanian tersebut.
Kemudian, ujar Syamsul Komar, akan dibentuk suatu koperasi dari gapoktan, agar dalam tataniaga pemasaran bisa lebih cepat dan harga lebih baik. Karena sejauh ini banyak masyarakat yang menjual hasil panen selalu melalui lapak ke agen baru ke pabrik, sehingga biaya kos nya lebih mahal dan banyak pemangkasan.”Dengan koperasi gapoktan, maka nantinya mekanisme pemasaran langsung dari petani ke koperasi dan langsung ke pabrik, sehingga mempersingkat tataniaga,”tandasnya.(ded)






